Mediafbi.com | JAKARTA, — Markas Besar TNI mulai mempersiapkan diri menghadapi medan pertempuran baru yang tidak lagi menggunakan peluru, melainkan informasi. Dalam upaya memenangkan opini publik di ruang digital, TNI menggelar Rapat Koordinasi Teknis Penerangan (Rakornispen) Tahun Anggaran 2026 yang dibuka secara resmi di Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (14/2/2026).
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Brigjen TNI Aulia Dwi Nasrullah, dalam sambutannya menegaskan bahwa pola peperangan modern telah bergeser secara signifikan. Konflik saat ini tidak lagi terbatas pada medan fisik, melainkan telah meluas ke ruang informasi, digital, dan kognitif.
“Media dan informasi kini menjadi instrumen utama yang digunakan untuk memengaruhi persepsi masyarakat serta legitimasi sebuah institusi,” ujar Brigjen Aulia di hadapan para Kepala Dinas Penerangan Angkatan dan seluruh pejabat penerangan di jajaran TNI.
Menyikapi dinamika tersebut, TNI menginstruksikan jajaran penerangan untuk meningkatkan kapasitas dalam menyajikan informasi secara cepat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Rakornispen 2026 diharapkan menjadi momentum membangun sistem kerja yang lebih terintegrasi guna menciptakan narasi proaktif. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga kredibilitas TNI di mata publik yang kini aktif berkutat di ruang digital.
Selain penguatan internal, TNI juga menegaskan komitmennya terhadap keterbukaan informasi publik. Institusi memastikan akses informasi bagi masyarakat tetap terbuka secara transparan dan akuntabel. Namun, TNI tetap berpegang pada prinsip kerahasiaan untuk informasi yang bersifat strategis bagi pertahanan negara.
Rakornispen yang digelar secara hibrida ini turut menghadirkan narasumber dari kalangan intelijen dan siber, yakni Waasintel Panglima TNI Laksma TNI A.A. Oka Wirayudha dan Dansatsiber TNI Brigjen TNI J.O. Sembiring. Kehadiran mereka bertujuan membekali personel penerangan dengan wawasan mendalam mengenai ancaman siber dan manajemen informasi strategis.
Dengan pendekatan ini, TNI tidak hanya berupaya menjadi kekuatan pertahanan yang tangguh secara fisik, tetapi juga ingin tangguh secara digital dan tetap dipercaya oleh rakyat di tengah gempuran informasi yang masif. (*)





























