Mediafbi.com | BALIKPAPAN, – Satu percikan kecil di lahan kering, bukan cuma membakar semak belukar. Dalam hitungan jam, api bisa melahap ratusan hektar hutan, merenggut paru-paru warga, dan menggerogoti kantong daerah. Inilah ancaman nyata kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang tiap tahun menghantui Kalimantan Timur.
Tak sekadar kabut asap yang menyengat mata. Dampaknya berantai: bayi dan lansia kehabisan napas, satwa liar kehilangan rumah, hingga petani sawit dan nelayan merugi karena cuaca ekstrem dan kualitas udara yang drop. “Ini bukan bencana alam, ini ulah manusia yang bisa dicegah,” tegas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kaltim (kutipan fiktif, red).
Yang lebih ironis, banyak pelaku masih ngotot membuka lahan dengan cara bakar. Alasannya klasik: murah dan cepat. Padahal, sanksi pidana sudah menanti. Undang-Undang Lingkungan Hidup menjerat pelaku karhutla dengan hukuman penjara hingga 10 tahun dan denda miliaran rupiah.
Masyarakat Diminta Proaktif, Bukan Pasrah
Pemerintah tak bisa bekerja sendirian. Dibutuhkan mata dan tangan warga untuk memadamkan sebelum api membesar. Langkah konkret yang bisa dilakukan:
· Laporkan asap atau titik api ke Damkar atau aparat terdekat. Nomer darurat harus ditempel di setiap balai desa.
· Buat sekat bakar dan kanal air di lahan gambut—ini investasi murah untuk selamatkan ladang.
· Edukasi generasi muda, karena anak-anak hari ini adalah penjaga hutan di masa depan.
“Kami tak bosan mengingatkan, lebih baik mencegah daripada memadamkan yang sudah besar. Biaya pemadaman bisa capai puluhan miliar per kejadian,” ujar koordinator lapangan BPBD Kaltim (kutipan fiktif).
Langit Biru Adalah Warisan
Kaltim punya potensi besar: hutan tropis, keanekaragaman hayati, dan udara segar yang jadi magnet investasi hijau. Namun semua itu bisa lenyap dalam abu, jika kewaspadaan kita kendor.
Jadi, berhenti jadi penonton. Saatnya bergerak kolektif. Mulai dari hal paling sederhana: pastikan tak ada bara tersisa setelah beraktivitas di kebun, dan sebarkan kesadaran ke tetangga sekitar.
Jaga diri, jaga lingkungan, jaga Kaltim!
































