Mediafbi.com | Balikpapan – Usia Kota Balikpapan yang genap 129 tahun pada Februari lalu tak lantas membuat wajah kotanya sempurna. Satu masalah fundamental masih menjadi “pekerjaan rumah” bersama: pemerataan akses air bersih. Hal ini mengemuka dalam silaturahim manajemen PT Mandiri Taman Bersih (PTMB) dengan awak media di Hotel Platinum, Selasa (3/3/2026), yang sekaligus menjadi ajang pemaparan agenda strategis perusahaan.
Direktur Utama PTMB, Dr Yudhi Saharuddin, MM, secara blak-blakan memaparkan peta jalan (roadmap) perbaikan layanan di tahun 2026. Ia tidak menampik bahwa kepercayaan publik sempat tergerus, terutama pasca perbaikan jaringan besar-besaran di tahun 2025 yang memicu keluhan air keruh di sejumlah titik.
“Kami terima semua kritik. Itu masukan berharga. Namun, perlu dipahami, perbaikan pipa tua adalah keniscayaan. Konsekuensinya memang ada endapan yang terangkat. Ini investasi jangka panjang untuk kualitas layanan,” tegas Yudhi di hadapan puluhan jurnalis.
Transformasi Layanan Air Bersih 2026 yang dicanangkan PTMB tidak sekadar retorika. Sejumlah target kuantitatif dan kualitatif dicanangkan untuk menjawab tantangan distribusi.
Target Utama PTMB 2026:
· Produksi Massif: Menargetkan produksi air mencapai 46,6 juta meter kubik untuk memenuhi kebutuhan warga yang terus bertambah.
· Ekspansi Jangkauan: Akan menambah sekitar 12.000 sambungan rumah (SR) baru, sebuah upaya konkret untuk memangkas ketimpangan akses.
· Efisiensi Sistem: Berupaya menekan angka Kehilangan Air (Non-Revenue Water/NRW) hingga level 28 persen, yang selama ini menjadi “bocor” ekonomi perusahaan.
· Akurasi Data: Penggantian 32.500 water meter lama dilakukan untuk memastikan pencatatan pemakaian air lebih akurat dan adil bagi pelanggan.
· Response Time: Standar pelayanan diperketat dengan janji merespon setiap pengaduan pelanggan dalam waktu maksimal 1×24 jam.
Lebih jauh, Yudhi menyoroti pentingnya transparansi data di era keterbukaan informasi. Pihaknya berkomitmen untuk mempublikasikan data produksi dan gangguan secara berkala. “Digitalisasi dan transparansi adalah fondasi. Warga berhak tahu, kalau air mati karena pipa bocor, katakan. Jangan dibiarkan mereka menunggu tanpa kepastian,” tandasnya.
Meski optimistis, PTMB tidak menampik masih banyak wilayah yang belum tersentuh layanan optimal. “Kami mohon maaf jika masih ada warga yang kesulitan. Kami terus berupaya membagi air secara berkeadilan dengan sumber daya yang ada,” pungkas Yudhi, mengakui bahwa jalan menuju layanan prima masih panjang di kota yang baru saja berusia lebih dari satu abad ini.(MU)




























