Awal September 2026 terasa berbeda. Bukan satu atau dua, tetapi sepuluh gunung api menyala nyaris berdampingan, sebuah fenomena yang mengguncang jagad maya sekaligus hati nurani bangsa.
Anak Krakatau, yang lahir dari letusan dahsyat 1883, kembali bergerak di Selat Sunda. Di tempat lain, Semeru memuntahkan awan panas, Gunung Ibu menggeliat di Maluku Utara, dan Li Lewotolok menyemburkan kolom abu ke langit Nusa Tenggara.
Kebersamaan ini sontak menjadi perbincangan. Linimasa sosial media berubah lautan tafsir: ada yang menyebut peringatan alam, ada yang mengaitkan dengan ramalan Jayabaya, dan tak sedikit yang membagikan kembali pesan-pesan lawas tokoh spiritual. Di tengah kepanikan dan decak kagum, pertanyaan besar muncul:
Apa sebenarnya yang terjadi?
Sasmita dan Introspeksi
Bagi masyarakat adat dan pegiat spiritual, peristiwa ini bukan sekadar geologis. Mereka membacanya sebagai sasmita—isyarat gaib bahwa bumi sedang “membersihkan diri”. Gunung yang meletus dianggap seperti napas panjang alam yang lelah akibat keserakahan manusia. Video ceramah Cak Nun tentang “lima gunung meletus” mendadak banjir komentar, seolah menjadi pengingat yang tertunda. Ramalan Jayabaya tentang jaman goro-goro pun hangat diperbincangkan, dari warung kopi hingga linimasa Twitter. Bagi mereka, ini adalah panggilan untuk kembali menjaga keseimbangan.
Statistik, Bukan Saling Panggil
Namun, para ahli dari PVMBG dengan tegas meredam spekulasi. “Tidak ada istilah ‘saling panggil’ antargunung,” tegas mereka. “Masing-masing memiliki kantong magma sendiri. Ini murni faktor statistik dan tekanan fluida yang mencapai titik jenuh di waktu yang hampir bersamaan.” Mereka mengingatkan bahwa di tahun 2020, beberapa gunung juga pernah aktif hampir berbarengan. Indonesia, dengan 127 gunung aktif di atas cincin api teraktif dunia, memang sedang “dalam masa sibuk” secara geologis. Tidak ada yang aneh—hanya dinamika bumi yang berjalan sebagaimana mestinya.
Sains dan Rasa Berujung Sama
Meski sains menjawab bagaimana, pertanyaan mengapa tetap menggantung di hati. Namun, justru di sinilah titik temunya, baik pendekatan ilmiah maupun spiritual sama-sama berujung pada satu pesan.
” manusia perlu menjaga keseimbangan. bukan karena gunung murka, melainkan karena kita hidup di atas bumi yang dinamis. Ilmu memberi kita cara, sementara kesadaran memberi kita arah”
Waspada Adalah Jalan, Selamat Adalah Tujuan
Di tengah gemuruh itu, satu hal yang pasti, kewaspadaan adalah ibadah. Evakuasi, masker, dan informasi resmi dari PVMBG adalah “doa” paling rasional yang bisa kita lakukan. Ini adalah pertanda bahwa kita harus lebih cerdas dan lebih humanis.
“Jangan biarkan narasi horor mengalahkan logika, dan jangan biarkan logika menghilangkan rasa syukur, Karena di negeri seribu gunung, selamat adalah tujuan, dan waspada adalah jalan” Jaga Budaya adat istiadat, Jaga Alam dari Keserakahan Manusia….!
Karya ; Hamba Allah…
”
































