Mediafbi.com | Balikpapan, – Sebuah inisiatif lokal di Balikpapan, Kalimantan Timur, menunjukkan bagaimana limbah industri dapat diubah menjadi berkah. Gerakan Petani Etam (Gematan Etam) secara konsisten memproduksi pupuk organik berkualitas berbahan baku limbah sawit dan abu pembangkit listrik, dengan kapasitas mencapai 2.000 ton per bulan.

Pupuk bernama “Semok” (akronim dari Semangat Maju Oke) ini diproduksi di sebuah pabrik di Kelurahan Lamaru, Balikpapan Timur, sejak tahun 2010. Inovator di balik produk ini, Wahyu, memulai gerakannya dari kelompok petani yang kemudian berkembang menjadi badan usaha berizin.
“Pupuk ini sudah memiliki izin edar resmi dari Kementerian Pertanian. Kami tidak hanya menjual mikroorganisme, tetapi ada bahan pembawa yang membuat nutrisi lebih stabil dan berkelanjutan,” jelas Wahyu saat ditemui di lokasi produksinya, Sabtu (31/1).
Formula pupuk Semok merupakan wujud nyata ekonomi sirkular. Wahyu dan tim meracik bahan pembawa alami seperti tandan kosong kelapa sawit (tangkos) yang merupakan limbah perkebunan, serta abu terbang (fly ash) dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Km 13 Balikpapan.
Bahan-bahan tersebut kemudian dicampur dengan fosfat alam dan zeolit, lalu diinjeksi dengan mikroorganisme lokal. Hasil akhirnya adalah pupuk “Granol” berbentuk butiran.
Awalnya, pupuk ini ditargetkan untuk perkebunan kelapa sawit skala besar. Namun, dalam perkembangannya, pupuk Semok juga terbukti efektif untuk sektor hortikultura, seperti cabai, timun, jeruk, durian, semangka, hingga tanaman pangan lainnya.
Keberadaan pabrik ini membawa dampak signifikan bagi masyarakat setempat. Sebanyak 40 tenaga kerja lokal diserap dalam proses produksi, menciptakan perputaran ekonomi di tingkat komunitas.
Produk ini telah merambah pasar nasional, antara lain ke Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Jambi, Kalimantan Utara, dan Palembang. Kontribusinya juga dirasakan melalui pembayaran pajak daerah.
Wahyu menekankan bahwa pupuk Semok selaras dengan prinsip perkebunan berkelanjutan (ESPO) karena menggunakan bahan alami dan ramah lingkungan. Karena itu, dia berharap ada keberpihakan lebih dari pemerintah daerah dan perusahaan swasta, termasuk di sektor reklamasi tambang, untuk menggunakan produk lokal.
“Kalau terus membeli produk luar, daerah luar yang kaya. Kita tidak bisa menyerap tenaga kerja lokal dan uang tidak berputar di Kaltim,” tegasnya.
Meski telah memiliki rekam jejak 16 tahun, Wahyu selaku Formulator Pupuk ini mengakui tantangan terbesar bukan pada kualitas atau teknologi, melainkan pada akses pasar dan dukungan kebijakan.
“Kami siap bersaing dengan pabrik pupuk dari Jawa. Tantangannya adalah kesempatan dan keberpihakan,” ujarnya.
Dengan merek SEMOK, Wahyu berharap pemerintah dapat lebih hadir mendukung UMKM lokal, termasuk membuka jalan agar produk inovatif karya anak daerah ini tidak hanya jaya di tanah air, tetapi juga berpotensi menembus pasar internasional.
“Kalau produksi lokal berkembang, pemerintah juga akan terangkat. Kami hanya ingin diberi ruang dan kesempatan,” tutup Wahyu.(Mudi)





























