Mediafbi.com | BERAU, – Asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah titik di Kalimantan Timur kini tak hanya mengancam kelestarian alam, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat. Wilayah Kabupaten Berau, salah satu daerah yang terdampak, nyaris diselimuti kabut asap pekat selama sepekan terakhir. Kondisi ini memicu keprihatinan berbagai elemen, tak terkecuali organisasi kepemudaan adat Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR).
Merespons darurat asap yang membahayakan saluran pernapasan, DPD TBBR Kabupaten Berau bergerak cepat. Dipimpin langsung oleh Ketua DPD, Alprianjis, S.Pd., dan puluhan anggota TBBR turun ke jalan pada Selasa (1/9/2026) . Mereka tidak membawa spanduk protes, melainkan puluhan dus berisi masker kesehatan yang dibagikan secara gratis kepada pengendara, pedagang pasar, dan warga pemukiman padat penduduk di sepanjang Jalan
perempatan Jl. Pemuda dan Jendral Sudirman.
“Aksi ini bukan sekadar bagi-bagi masker. Ini adalah gerakan nyata untuk membangun kesadaran kolektif. Kami ingin masyarakat paham bahwa memakai masker di tengah kondisi ini adalah bentuk perlindungan paling sederhana namun sangat vital untuk diri sendiri dan keluarga,” ujar Alprianjis dengan suara lantang di sela-sela aksi.
Menurutnya, banyak warga yang masih mengabaikan bahaya paparan partikel halus dari asap kebakaran. Padahal, dampak jangka pendeknya bisa memicu ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), iritasi mata, hingga memperparah penyakit paru-paru kronis. “Kami sengaja memilih titik-titik strategis seperti persimpangan jalan dan area sekolah karena di sanalah konsentrasi polusi dan mobilitas warga paling tinggi,” tambahnya.
Salah satu penerima masker, Rani (38), warga Kelurahan Tanjung Redeb, mengaku terbantu. “Saya sudah dua hari batuk-batuk. Anak saya juga rewel karena sesak. Tadi dikasih masker sama adik-adik TBBR, baru sadar ini penting. Terima kasih banyak,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Aksi sosial ini mendapatkan respons positif dari masyarakat dan aparat setempat. Inisiatif TBBR menegaskan bahwa ketersediaan masker di puskesmas terus ditambah, mengingat prakiraan cuaca menunjukkan potensi karhutla masih tinggi hingga akhir September mendatang.
Tak hanya berhenti di pembagian masker, Alprianjis menyatakan bahwa TBBR akan terus mengedukasi warga melalui grup-grup WhatsApp dan pengeras suara keliling. “Kami juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara tradisional dan melapor jika melihat titik api. Karena hutan yang terbakar bukan hanya merugikan ekologi, tapi juga masa depan anak cucu kita,” tegasnya.
Hingga sore hari, kabut asap masih terlihat tebal menyelimuti langit Berau. Namun, semangat gotong royong yang ditunjukkan oleh TBBR menjadi secercah cahaya di tengah kepungan polusi. “Sehat dimulai dari kesadaran diri. Pakai masker, jaga keluarga, selamatkan Berau,” pungkas Alprianjis mengakhiri wawancara.. (*)
































