Mediafbi.com | SUBANG — Modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) TNI Angkatan Udara bukan sekadar menghadirkan platform dan teknologi tempur baru. Di balik kecanggihan alutsista, kesiapan personel, ketangguhan organisasi, doktrin operasi, pemeliharaan, hingga budaya keselamatan menjadi faktor penentu agar kekuatan udara benar-benar mampu menjawab tuntutan operasi.
Pesan tersebut ditegaskan Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI M. Tonny Harjono, S.E., M.M., saat melaksanakan kunjungan kerja ke Lanud R. Suryadi Suryadarma.
Dalam kunjungan tersebut, Kasau melihat langsung sejumlah kesiapan operasional, di antaranya Dynamic Pegasus, demo udara AATT, ambulance udara, serta meninjau berbagai fasilitas dan satuan yang menjadi bagian dari kesiapan TNI AU.
Bagi TNI AU, modernisasi tidak boleh berhenti pada pengadaan. Alutsista berteknologi tinggi membutuhkan personel yang memiliki kompetensi, disiplin, dan profesionalisme tinggi untuk mengoperasikan sekaligus merawatnya.
Teknologi Tinggi Harus Diimbangi SDM Berkualitas
Kasau menekankan bahwa peningkatan kemampuan alutsista harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Personel TNI AU dituntut tidak hanya mampu mengoperasikan sistem persenjataan modern, tetapi juga memahami prosedur, mampu mengambil keputusan secara tepat, serta menjaga standar keselamatan dalam setiap tahapan operasi.
“Safety bukan tanggung jawab satu unsur saja. Keselamatan merupakan tanggung jawab seluruh personel yang terlibat dalam siklus operasi,” menjadi pesan penting yang ditekankan dalam rangkaian kunjungan tersebut.
Budaya safety pun harus dibangun sebagai kebiasaan, bukan sekadar prosedur administratif. Setiap penerbangan, pemeliharaan, latihan, hingga pelaksanaan operasi harus dilaksanakan dengan mengedepankan prinsip keselamatan.
Alutsista Canggih, Operasi Harus Tetap Presisi
Kesiapan Dynamic Pegasus dan demo udara AATT menjadi bagian dari gambaran kemampuan serta profesionalisme personel TNI AU dalam mengoperasikan kekuatan udara.
Di sisi lain, keberadaan ambulance udara menunjukkan bahwa kemampuan udara juga memiliki dimensi kemanusiaan, terutama dalam mendukung proses evakuasi dan pelayanan dalam situasi yang membutuhkan kecepatan serta mobilitas tinggi.
Kunjungan Kasau sekaligus menjadi momentum untuk memastikan bahwa berbagai unsur pendukung tersebut berada dalam kondisi siap, baik dari sisi personel, fasilitas, sarana pendukung maupun prosedur operasional.
Modernisasi akhirnya bukan hanya tentang seberapa canggih alutsista yang dimiliki, tetapi juga seberapa siap personel dan organisasi mengubah kecanggihan tersebut menjadi kemampuan nyata.
Dengan demikian, profesionalisme personel, kesiapan satuan dan budaya safety menjadi fondasi penting dalam menjaga kesiapan operasional TNI AU di tengah perkembangan teknologi pertahanan yang semakin cepat.
Sebab, alutsista modern tanpa personel yang siap dan budaya keselamatan yang kuat tidak akan menghasilkan kekuatan udara yang optimal.(*)
































