Mediafbi.com | BALIKPAPAN – Kualitas pertunjukan yang memukau masyarakat selama dua hari penyelenggaraan Pekan Budaya Borneo (PBB) bertajuk “Jejak Maestro para Penjaga Tradisi” di Balikpapan merupakan hasil dari proses seleksi yang sangat selektif.
Hal ini diungkapkan oleh Tisna Arif, S.S., Pamong Budaya Ahli Muda pada Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV KaltimTara, sekaligus Ketua Panitia Event Pekan Budaya Borneo di sela-sela acara penutupan, Sabtu malam (13/12).
Menurut Tisna Arif, proses kurasi yang cermat adalah kunci untuk memastikan setiap penampilan yang disuguhkan benar-benar merepresentasikan kekayaan, keaslian, dan kelestarian budaya Kalimantan.
“Kami ingin memastikan bahwa yang tampil di panggung ‘Jejak Maestro’ benar-benar merepresentasikan kekayaan dan keaslian budaya Borneo, namun tetap relevan dengan perkembangan zaman,” jelas Tisna Arif kepada awak media.
Ia memaparkan, terdapat beberapa kriteria utama yang menjadi landasan tim kurator — yang melibatkan seniman senior dan akademisi budaya kredibel di wilayah Kalimantan — dalam memilih peserta dari berbagai daerah dan lintas kultur.
Kriteria tersebut meliputi, Orisinalitas dan Nilai Tradisi
Peserta wajib menampilkan akar budaya yang kuat, baik dalam seni tari, musik, maupun teater, dengan tetap menghormati pakem atau nilai-nilai asli yang diwariskan maestro.
Inovasi dan Kreativitas Kontemporer:
Selain tradisi murni, tim kurator juga mencari karya kreasi baru yang inovatif, seperti tari kontemporer dan perpaduan musik modern-tradisional, yang menunjukkan adanya regenerasi dan perkembangan seni di daerah.
Representasi Lintas Kultur:
PBB menekankan keberagaman, sehingga seleksi mencakup representasi dari berbagai etnis dan budaya yang ada di Kalimantan, termasuk penampilan Barongsai yang menunjukkan akulturasi budaya Tionghoa di tengah masyarakat lokal.
Kualitas Artistik dan Teknik Pementasan:
Aspek teknis dan kualitas pementasan menjadi penentu akhir untuk memastikan suguhan yang diberikan kepada publik adalah yang terbaik.
Proses kurasi ini berhasil menyaring puluhan komunitas seni dan budaya, menghasilkan rangkaian acara yang kaya akan ragam budaya lintas daerah.
Ke depan, Tisna Arif tidak menutup kemungkinan untuk menambah lintas seni yang lain, seperti seni rupa dan seni kriya, pada tahun yang akan datang.
Tisna Arif berharap, standar tinggi yang diterapkan dalam PBB ini dapat memotivasi para seniman daerah untuk terus berkarya secara profesional, menjaga marwah seni budaya lokal, serta menginspirasi generasi muda untuk tidak takut mengeksplorasi dan melestarikan budaya mereka sendiri. (NK/Mudy)





























