Mediafbi.com | Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan titik terendah sepanjang masa. Pada penutupan perdagangan Kamis (4/6/2026), mata uang Garuda berada di posisi Rp18.049 per dolar AS, menjadi level terlemah dalam sejarah.
Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa pelemahan ini terutama dipicu oleh faktor eksternal, yakni meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa eskalasi konflik tersebut telah memperbesar ketidakpastian global, mendorong harga energi tetap tinggi, serta meningkatkan risiko inflasi global. Akibatnya, arus modal keluar dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, semakin deras.
“Investor global cenderung beralih ke aset aman, sehingga mata uang negara emerging market mengalami tekanan yang signifikan,” ujar Destry dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis.
Selain faktor eksternal, tingginya kebutuhan valuta asing di dalam negeri untuk repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri turut memperburuk posisi rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Menghadapi situasi ini, BI menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar yang lebih intensif, baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), transaksi spot, maupun pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Di sisi lain, bank sentral juga terus memperluas skema Local Currency Transaction (LCT) bersama negara mitra seperti Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Hingga April 2026, nilai transaksi LCT telah mencapai sekitar US$22,7 miliar, mendekati total transaksi sepanjang tahun 2025.
Meskipun rupiah tercatat melemah sekitar 7,44% secara year-to-date (YTD), BI meyakini fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dengan cadangan devisa nasional sebesar US$146,2 miliar per akhir April 2026, yang dinilai cukup untuk menjaga stabilitas sektor eksternal.(MI)




























