Mediafbi.com BALIKPAPAN, — Nuansa sakral yang biasanya hanya terasa di ruang terbatas keraton, berhasil dihadirkan di hadapan publik luas dalam pertunjukan Tari Topeng Kemindu Klasik di panggung utama Pekan Budaya Borneo, Jumat (12/12/2025).

Tarian yang berasal dari tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ini pada mulanya adalah bagian eksklusif dari upacara adat keraton, seperti manyanggar atau Erau, dan hanya dipentaskan di ruang khusus bernama Stinggil. Kini, melalui ajang budaya tersebut, esensi ritual yang mendalam berhasil dibawa ke ruang publik tanpa mengurangi kekhidmatannya.
Pergeseran fungsi ini merupakan bagian dari upaya pelestarian dinamis yang dilakukan berbagai pihak, termasuk yayasan dan sanggar seni, untuk mengenalkan warisan budaya ke khalayak yang lebih luas, baik di dalam maupun luar negeri.
Makna di Balik Topeng dan Gerakan
Penampilan yang memukau tersebut dibangun dari elemen-elemen yang sarat makna:
· Topeng: Unsur utama yang melambangkan karakter tertentu, seperti tokoh keraton atau dewa. Topeng Kemindu memiliki makna simbolis yang mendalam.
· Gerakan: Anggun, terstruktur, dan penuh filosofi, berbeda dengan tarian hiburan yang lebih dinamis.
· Musik: Diiringi alunan musik tradisional Kutai seperti Tingkilan, yang menciptakan atmosfer magis dan khidmat.
Adaptasi serupa juga terlihat pada Tari Topeng Wirun, tari topeng klasik Kutai lainnya yang kini kerap ditampilkan di berbagai acara besar untuk melestarikan dan memopulerkannya.
Dedikasi Sang Pewaris: Menjaga Obor Tradisi Tetap Menyala
Di balik lestarinya tarian sakral ini, terdapat dedikasi para pewaris dan pelaku budaya.
Aji Maya Melati Winawaty Samadya, seorang penerus trah maestro Tari Topeng Kutai, secara aktif mengemban misi pelestarian. Ia mewarisi ilmu langsung dari sang ayah, seorang maestro legendaris, dan kini memimpin Sanggar Jaya Winata Community—yang namanya diabadikan untuk menghormati jasa ayahnya.
Melalui sanggar tersebut, Aji Maya tidak hanya melatih keluarganya, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat umum yang berminat untuk mempelajari tarian ini. Ia menyuarakan pesan penting kepada generasi muda: “Ini adalah warisan adiluhung kita, identitas budaya kita. Jika bukan kita yang melestarikan, siapa lagi?”
Upaya serupa dilakukan oleh Yayasan Sangkoh Piatu yang aktif melestarikan dan mempromosikan Tari Topeng Wirun ke berbagai ajang. Dinas Pariwisata setempat juga merangkul komunitas seni untuk memberikan mereka ruang berekspresi dalam berbagai festival.(NK/Mudy)





























